Blog

Kayu Manis Cassia Vera IV Koto, Rempah Warisan Leluhur yang Menembus Pasar Ekspor

  • Subchan, S.PI.,M.SI
  • 0 Komentar

Kabupaten Agam, khususnya wilayah Kecamatan IV Koto dan sekitarnya, adalah salah satu sentra produksi kayu manis cassia vera (Cinnamomum burmannii) terbesar di Indonesia. Pohon kayu manis tumbuh secara alami maupun dibudidayakan oleh petani di kebun-kebun campuran yang berada di kaki lereng Gunung Singgalang dan Gunung Merapi.

Berbeda dari kayu manis Ceylon yang lebih dikenal di pasar Eropa, cassia vera IV Koto memiliki aroma yang lebih tajam dan kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi, menjadikannya pilihan utama industri makanan, minuman, farmasi, dan kosmetik di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur. Indonesia adalah penghasil 70% cassia vera dunia, dan sebagian besar berasal dari Sumatera Barat.

Petani IV Koto memanen kulit kayu manis dengan cara mengupas kulit pohon yang sudah berumur 7-10 tahun. Kulit yang sudah dikupas kemudian dijemur hingga menggulung menjadi batangan-batangan khas yang langsung dapat dijual. Masa panen per pohon bisa berlangsung setiap 2-3 tahun sekali dan pohon dapat berproduksi selama puluhan tahun.

Harga kayu manis di tingkat petani cenderung fluktuatif mengikuti permintaan ekspor. Dalam kondisi harga bagus, seorang petani dengan 2 hektare kebun kayu manis dapat meraup penghasilan Rp 30-50 juta per musim panen — menjadikannya komoditas paling menguntungkan di IV Koto.


Foto Profil Pegawai

Subchan, S.PI.,M.SI

Seseorang yang berdidikasi terhadap Ilmu Pengetahuan dan berwawasan luas.

Bagaimana tanggapanmu terhadap berita ini

0
0
0
0
0

0 Komentar

Post Comment

Email tidak akan dipublikasikan. Field bertanda * wajib diisi.