Blog

SATU RIBU HARI YANG MENENTUKAN: REFLEKSI PENDAMPINGAN GIZI DI LAPANGAN

  • Ardimansyah
  • 0 Komentar

SATU RIBU HARI YANG MENENTUKAN: REFLEKSI PENDAMPINGAN GIZI DI LAPANGAN

Oleh: Novia Wahyu Diana, S.Gz

Mahasiswi Program Studi Magister Ilmu Gizi, FKM Universitas Andalas

Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Helmizar | Program Studi Magister Ilmu Gizi FKM Unand

Sore itu, ketika saya dan rekan-rekan tim mendatangi salah satu posyandu di wilayah kerja Puskesmas IV Koto, Kabupaten Agam, seorang ibu muda duduk dengan gelisah sambil menggendong bayinya yang baru berusia tiga bulan. Ia belum mengetahui bahwa perjalanan panjang menentukan tumbuh kembang sang buah hati sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum bayi itu lahir, bahkan sejak si ibu sendiri masih dalam kandungan neneknya.

Inilah yang disebut fetal programming, atau pemrograman janin. Sebuah konsep ilmiah yang menjelaskan bagaimana kondisi gizi dan kesehatan ibu selama kehamilan akan secara langsung membentuk kapasitas pertumbuhan, kecerdasan, dan kesehatan anak seumur hidup. Ketika seorang ibu hamil kekurangan zat gizi, tubuh janin yang ada di dalam kandungannya akan melakukan adaptasi, memprogram dirinya untuk bertahan hidup dalam kondisi sumber daya yang terbatas. Sayangnya, program ini membawa konsekuensi jangka panjang yang tidak ringan.

Salah satu konsekuensi terbesar dari kegagalan gizi selama masa kehamilan adalah stunting. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional sudah turun menjadi 19,8 persen. Namun, angka ini masih melebihi ambang batas kritis WHO sebesar 20 persen, dan yang lebih mengkhawatirkan adalah disparitas antarwilayah yang masih sangat tajam. Di beberapa kecamatan di Sumatera Barat, angka stunting masih jauh di atas rata-rata nasional.

Stunting bukan sekadar anak yang pendek. Di balik tubuh mungil seorang balita stunting, tersembunyi serangkaian kerugian yang tidak tampak di permukaan, yaitu perkembangan otak yang terganggu, kemampuan belajar yang terhambat, sistem imun yang lemah, dan risiko tinggi mengalami penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi saat dewasa. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada tahun 2024 membuktikan secara ilmiah bahwa anak Indonesia yang mengalami stunting pada usia dini memiliki capaian pendidikan yang secara signifikan lebih rendah saat mereka dewasa. Artinya, stunting bukan hanya masalah kesehatan, melainkan juga masalah kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa.

Melalui kegiatan field project program pendampingan pencegahan stunting yang kami lakukan di wilayah Kecamatan IV Koto, kami menyaksikan langsung bagaimana berbagai faktor saling berkelindan memperparah risiko stunting. Ibu hamil yang tidak rutin mengonsumsi tablet tambah darah, bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif penuh selama enam bulan, makanan pendamping ASI yang tidak beragam, air minum yang tidak layak konsumsi, serta pengetahuan ibu yang masih terbatas tentang gizi seimbang, semuanya berkontribusi menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi tumbuh kembang optimal anak.

Namun di tengah kompleksitas masalah tersebut, kami juga menemukan secercah cahaya harapan. Para kader posyandu yang berdedikasi, bidan desa yang tak kenal lelah, serta ibu-ibu yang antusias mengikuti kelas gizi menjadi bukti bahwa perubahan itu mungkin terjadi, asalkan ada pendampingan yang tepat dan berkelanjutan. Ketika pengetahuan ibu tentang gizi meningkat, perilaku pemberian makan anak pun berubah ke arah yang lebih baik.

Pemerintah Indonesia sesungguhnya telah memiliki peta jalan yang jelas. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting telah menetapkan kerangka kebijakan lintas sektor yang komprehensif. Intervensi gizi spesifik seperti suplementasi, pemberian makanan tambahan, dan promosi ASI eksklusif telah berjalan. Intervensi sensitif melalui perbaikan sanitasi, air bersih, dan perlindungan sosial juga terus diperkuat. Bahkan, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase 1000 HPK menjadi tonggak penting perlindungan hukum bagi periode kritis pertumbuhan anak.

Tantangannya kini bukan lagi pada tersedianya regulasi, melainkan pada kualitas implementasi di lapangan dan keberlanjutan program tersebut hingga menjangkau keluarga-keluarga yang paling rentan. Pengalaman kami di IV Koto mengajarkan bahwa program apapun, sebagus apapun rancangannya, tidak akan efektif tanpa pendekatan yang humanis, terkoneksi dengan kebutuhan nyata masyarakat, dan didukung oleh tenaga kesehatan serta kader yang terlatih dan termotivasi.

Seribu hari pertama kehidupan, yaitu 270 hari selama kehamilan dan 730 hari setelah kelahiran, adalah jendela kesempatan yang hanya terbuka sekali. Tidak ada kesempatan kedua untuk mengulang masa kritis ini. Investasi terbaik yang bisa kita berikan kepada generasi masa depan adalah memastikan bahwa setiap ibu hamil mendapatkan gizi yang cukup, setiap bayi mendapatkan ASI eksklusif, dan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan penuh stimulasi.

Karena anak yang tumbuh optimal hari ini adalah pemimpin bangsa yang kita harapkan di masa yang akan datang. Dan itu dimulai dari satu ribu hari yang menentukan.

 

Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan hasil refleksi dari field project program pendampingan pencegahan stunting di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang dilaksanakan oleh mahasiswi Program Studi Magister Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas, di bawah bimbingan Prof. Dr. Helmizar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI. (2024). Potret stunting di Indonesia. Diakses dari https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-stunting-di-indonesia/

BKKBN. (2022). Kebijakan dan strategi penurunan stunting. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan KB.

CastaΓ±o-Moreno, E., Ronco, A. M., & Casanello, P. (2023). Fetal programming and metabolic syndrome. Advances in Experimental Medicine and Biology, 1428, 83-98. https://doi.org/10.1007/978-3-031-32554-0_4

Cinquina, V., Keimpema, E., Pollak, D. D., & Harkany, T. (2023). Adverse effects of gestational omega-3 and omega-6 polyunsaturated fatty acid imbalance on the programming of fetal brain development. Journal of Neuroendocrinology, 35(9), e13320. https://doi.org/10.1111/jne.13320

Dinas Kesehatan Kabupaten Berau. (2022). Gebrakan LASGITA inovasi pencegahan stunting Indonesia. Diakses dari https://dinkes.beraukab.go.id/

Dinas Kesehatan Kota Batu. (2024). Upaya percepatan penurunan stunting melalui inovasi KANCING BAJU. Diakses dari http://dinkes.batukota.go.id/

Handryastuti, S., Pusponegoro, H. D., Nurdadi, S., Chandra, A., Pramita, F. A., Soebadi, A., Widjaja, I. R., & Rafli, A. (2022). Comparison of cognitive function in children with stunting and children with undernutrition with normal stature. International Journal of Pediatrics, 2022, 9775727. https://doi.org/10.1155/2022/9775727

Kemenko PMK. (2023). Kemenko PMK dorong 19 K/L capai target indikator Perpres 72/2021 untuk prevalensi stunting 14% tahun 2024. Diakses dari https://www.kemenkopmk.go.id/

Kemenko PMK. (2024). Kemenko PMK pimpin persiapan pelaksanaan intervensi serentak pencegahan stunting. Diakses dari https://www.kemenkopmk.go.id/

Larasati, E. N., Dieny, F. F., Rahadiyani, A., & Purwanti, R. (2025). Utilization of e-PPGBM for analysing the relation between Posyandu visits post-Covid-19 adaptation and low body weight history with stunting among toddlers in Semarang City. Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition), 13(2), 105-116. https://doi.org/10.14710/jgi.13.2.105-116

Larasati, T., et al. (2024). Assessment of the feasibility of using mobile application in stunting prevention in toddlers: Scoping review. Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan, 18(3). https://ojs.polkespalupress.id/index.php/JIK/article/view/2734

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Prastowo, N. A., Agho, K., & Dibley, M. J. (2024). Stunting and its association with education and cognitive outcomes in adulthood: A longitudinal study in Indonesia. PLOS ONE, 19(5), e0295380. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0295380

Purnasari, G., Dwiningsih, S. U., & Simbolon, D. (2021). Malnutrition in early life and its neurodevelopmental and cognitive consequences: A scoping review. Nutrition Research Reviews, 35(2), 186-207. https://doi.org/10.1017/S0954422421000172

Rachmawati, I., et al. (2026). Pencegahan stunting berbasis ekosistem cerdas menuju 2045. Prosiding SENANTIAS. https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/Senan/article/view/58317

Setyawan, A. B., et al. (2024). Development of an android-based mobile application and digital book through the ADDIE model for early detection and stunting prevention education. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 7(5), 1351-1358. https://doi.org/10.56338/mppki.v7i5.5346

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan.

Wadhwa, P. D., Buss, C., Entringer, S., & Rasmussen, J. M. (2022). Fetal programming of human energy homeostasis brain networks: Issues and considerations. Obesity Reviews, 23(3), e13392. https://doi.org/10.1111/obr.13392

Sekretariat Wakil Presiden RI. (2024). Rampung digelar, Rakornas dan Rakortek PPS 2024 hasilkan kesepakatan tinjau kembali Perpres No. 72 Tahun 2021. Diakses dari https://www.wapresri.go.id/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Foto Profil Default

Ardimansyah

#.

Bagaimana tanggapanmu terhadap berita ini

0
0
0
0
0

0 Komentar

Post Comment

Email tidak akan dipublikasikan. Field bertanda * wajib diisi.